Dia dan Teresa
- Dia yang tanpa nama eps 3 -
Cerita ini melompat cukup jauh
9 tahun yang lalu, Dia hanyalah seorang bocah yang baru saja duduk di bangku menengah pertama. Menikmati indahnya momen ketika menjadi bocah remaja awal.
Kini.. dia telah mengenal dunia dimana dia harus bertemu dengan orang-orang yang belum pernah dia temui sebelumnya. Yah cerita ini berlanjut ketika dia sudah berada di salah satu Universitas Swasta di kota Malang dan menyandang status sebagai seorang mahasiswa.
---
Hari Senin sekitar pukul 14.30 wib, jam kuliah terakhir telah usai. Seperti biasa, suasana kampus dipenuhi ratusan bahkan ribuan mahasiswa yang lalu lalang untuk mencari ilmu (katanya).
Dia berjalan keluar kelas bermaksut untuk pulang dan mampir ke kost temannya. Dia berjalan bersma teman-temannya melewati lorong-lorong remang yang mana lorong tersebut mengarah langsung ke tempat parkir kendaraan khusus mahasiswa. Kampus dimana dia berada adalah kampus yang memang terkenal dengan lorong-lorong seram. Banyak cerita-cerita mistis di kalangan masyarakat sekitar bahkan mahasiswa terkait keberadaan kampus itu. Entah benar atau tidak masih dalam status misteri.
Asik mengobrol dengan teman-temannya, tiba-tiba langkahnya terhenti dan muncul sesuatu yang mengganjal dibenaknya. Dia mencoba untuk mengingat-ingat tentang apa membuat perasaannya bimbang. Dia memejamkan mata sejenak untuk menjelajah kapasitas otaknya, mencari tahu hal apa yang mungkin terlupakan oleh dirinya. Tak lama setelah itu dia sadar dan teringat tentang janji yang telah dia buat sebelumnya dengan seorang wanita, mereka berjanji untuk bertemu di taman sebelah kampus setelah jam kuliah berakhir. Setelah tersadar akan janji itu, dia meminta temannya untuk dahulu meninggalkannya. Dan tanpa pikir panjang seraya meninggalkan temannya, dia pun bergegas menuju taman.
Dalam perjalanannya menuju taman sebelah kampus, dia melewati lorong-lorong seram yang memang itu adalah jalan satu-satunya menuju taman. Di tengah perjalanan melewati lorong-lorong itu, tanpa sadar tiba-tiba otaknya mengingat sosok wanita yang dulu pernah sempat berteduh dihatinya. Seorang wanita cantik, anggun, dan sinis yang membuatnya merasakan jatuh cinta untuk pertama kali dalam sejarah hidupnya. Seorang wanita yang bisa membuat luluh setiap insan yang memandang.
Yah... dialah Teresa. Sosok wanita legendaris yang tidak mungkin bisa dia lupakan meskipun kini mereka tidak sekalipun pernah bertemu. Dia mengingat kisah tentang pertemuannya dengan wanita cantik, anggun dan juga sinis itu untuk pertama kalinya di sekolah menengah pertama, tepat pada saat hari pertama dia duduk sebagai seorang siswa di sekolah menengah pertama. Kala itu dia dan Teresa masihlah dua bocah polos yang terjebak dalam asmara orang dewasa bernama cinta. Dia mengingat satu kejadian yang mungkin tidak akan pernah terlupakan dalam sejarah hidupnya.
---
Kala itu hampir pukul 15.00 wib, suasana hujan lebat yang menjadi cirikhas bulan akhir tahun, yaitu Desember. Dia dan Teresa berteduh tepat di depan toko kelontong pinggir jalan yang kebetulan tutup. Mereka berdua berdiri berdempetan dan bergandengan tangan terjebak oleh lebatnya hujan di bulan Desember. Keberadaan toko kelontong itu seraya menjadi saksi dua bocah remaja menengah pertama yang sedang jatuh cinta.
Kisah itu bermula ketika usai melakoni kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya. Mereka berdua memutuskan untuk pulang bersama dan bertemu di suatu tempat, alasannya karena memang jalan yang mereka lalui sebenarnya adalah se-arah. Mereka memutuskan untuk bertemu di samping halte dekat pasar kala itu, dan ternyata mereka malah bertemu di depan toko kelontong tutup yang memang tidak jauh dari halte tempat mereka akan bertemu sebelumnya.
Hujan lebat yang turun membuat keduanya terjebak dan terpaksa harus diam terpaku di tempat itu menunggu bus yang akan membawanya pulang. Hawa dingin yang menusuk dan menembus pori-pori membuat suasana kala itu menjadi manis dan romantis untuk dua bocah menengah pertama yang sedang jatuh cinta. Terdengar tawa kecil di sela-sela lebatnya hujan yang menerjang sore itu. Suasana romantis semacam itu adalah suasana yang sangat didambakan oleh dua bocah remaja yang sedang termakan oleh iblis asmara, mereka berdua seakan tidak merelakan sang hujan untuk berhenti.
Di tengah kemesraan keduanya, ada satu hal yang membuat suasana kala itu menjadi suasana yang tidak akan terlupakan. Yaitu saat dia dan Teresa saling bertukar janji untuk bertemu kembali dikala mereka sudah menginjak usia dewasa dan meneruskan cintanya.
Kala itu mereka berdua sama-sama tahu bahwa asmara mereka sebentar lagi dipastikan akan berakhir. Bukan perselingkuhan, bukan kebosanan atau apapun itu. Sesuatu kejam yang memaksa mereka harus mengakhiri hubungan mereka adalah jarak. Untuk ukuran seorang bocah menengah pertama jarak adalah momok kejam yang sangat tidak mungkin untuk dilawan dan dilalui, mereka berdua sangat tahu akan hal itu. Mau bagaimana lagi, bila keadaan yang berkata demikian. Sehebat apapun perasaan dan cinta, apabila keadaan tidak merestui, maka berakhirlah sudah semuanya.
Setelah kenaikan kelas, Teresa akan ikut orang tuanya untuk pindah sekolah dan melanjutkan studinya di luar kota.
Sungguh pengalaman cinta yang sangat sulit dan menyiksa untuk ukuran mereka yang masih baru duduk di kelas 7 menengah pertama. Keadaan seakan membuat tingkat kedewasaan mereka dipaksa keluar dari singgasananya. Dan alhasil, kedewasaan itu berhasil keluar dan mampu untuk menahan kesakitan dan kepedihan. Mereka yang terpisahkan oleh jarak mulai mampu untuk merelakan hatinya terbuang. Seiring berjalannya waktu, mereka berusaha untuk mengganti hati yang terbuang itu dengan hati yang baru (itu sungguh sakit, percayalah).
---
Akhirnyaaa.. setelah melewati lorong-lorong seram seorang diri, sampailah dia di taman sebelah kampus dan disana sudah ada sosok wanita yang duduk menunggunya.
Wanita itu adalah Devi kekasihnya sekarang..
Cerita ini melompat cukup jauh
9 tahun yang lalu, Dia hanyalah seorang bocah yang baru saja duduk di bangku menengah pertama. Menikmati indahnya momen ketika menjadi bocah remaja awal.
Kini.. dia telah mengenal dunia dimana dia harus bertemu dengan orang-orang yang belum pernah dia temui sebelumnya. Yah cerita ini berlanjut ketika dia sudah berada di salah satu Universitas Swasta di kota Malang dan menyandang status sebagai seorang mahasiswa.
---
Hari Senin sekitar pukul 14.30 wib, jam kuliah terakhir telah usai. Seperti biasa, suasana kampus dipenuhi ratusan bahkan ribuan mahasiswa yang lalu lalang untuk mencari ilmu (katanya).
Dia berjalan keluar kelas bermaksut untuk pulang dan mampir ke kost temannya. Dia berjalan bersma teman-temannya melewati lorong-lorong remang yang mana lorong tersebut mengarah langsung ke tempat parkir kendaraan khusus mahasiswa. Kampus dimana dia berada adalah kampus yang memang terkenal dengan lorong-lorong seram. Banyak cerita-cerita mistis di kalangan masyarakat sekitar bahkan mahasiswa terkait keberadaan kampus itu. Entah benar atau tidak masih dalam status misteri.
Asik mengobrol dengan teman-temannya, tiba-tiba langkahnya terhenti dan muncul sesuatu yang mengganjal dibenaknya. Dia mencoba untuk mengingat-ingat tentang apa membuat perasaannya bimbang. Dia memejamkan mata sejenak untuk menjelajah kapasitas otaknya, mencari tahu hal apa yang mungkin terlupakan oleh dirinya. Tak lama setelah itu dia sadar dan teringat tentang janji yang telah dia buat sebelumnya dengan seorang wanita, mereka berjanji untuk bertemu di taman sebelah kampus setelah jam kuliah berakhir. Setelah tersadar akan janji itu, dia meminta temannya untuk dahulu meninggalkannya. Dan tanpa pikir panjang seraya meninggalkan temannya, dia pun bergegas menuju taman.
Dalam perjalanannya menuju taman sebelah kampus, dia melewati lorong-lorong seram yang memang itu adalah jalan satu-satunya menuju taman. Di tengah perjalanan melewati lorong-lorong itu, tanpa sadar tiba-tiba otaknya mengingat sosok wanita yang dulu pernah sempat berteduh dihatinya. Seorang wanita cantik, anggun, dan sinis yang membuatnya merasakan jatuh cinta untuk pertama kali dalam sejarah hidupnya. Seorang wanita yang bisa membuat luluh setiap insan yang memandang.
Yah... dialah Teresa. Sosok wanita legendaris yang tidak mungkin bisa dia lupakan meskipun kini mereka tidak sekalipun pernah bertemu. Dia mengingat kisah tentang pertemuannya dengan wanita cantik, anggun dan juga sinis itu untuk pertama kalinya di sekolah menengah pertama, tepat pada saat hari pertama dia duduk sebagai seorang siswa di sekolah menengah pertama. Kala itu dia dan Teresa masihlah dua bocah polos yang terjebak dalam asmara orang dewasa bernama cinta. Dia mengingat satu kejadian yang mungkin tidak akan pernah terlupakan dalam sejarah hidupnya.
---
Kala itu hampir pukul 15.00 wib, suasana hujan lebat yang menjadi cirikhas bulan akhir tahun, yaitu Desember. Dia dan Teresa berteduh tepat di depan toko kelontong pinggir jalan yang kebetulan tutup. Mereka berdua berdiri berdempetan dan bergandengan tangan terjebak oleh lebatnya hujan di bulan Desember. Keberadaan toko kelontong itu seraya menjadi saksi dua bocah remaja menengah pertama yang sedang jatuh cinta.
Kisah itu bermula ketika usai melakoni kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya. Mereka berdua memutuskan untuk pulang bersama dan bertemu di suatu tempat, alasannya karena memang jalan yang mereka lalui sebenarnya adalah se-arah. Mereka memutuskan untuk bertemu di samping halte dekat pasar kala itu, dan ternyata mereka malah bertemu di depan toko kelontong tutup yang memang tidak jauh dari halte tempat mereka akan bertemu sebelumnya.
Hujan lebat yang turun membuat keduanya terjebak dan terpaksa harus diam terpaku di tempat itu menunggu bus yang akan membawanya pulang. Hawa dingin yang menusuk dan menembus pori-pori membuat suasana kala itu menjadi manis dan romantis untuk dua bocah menengah pertama yang sedang jatuh cinta. Terdengar tawa kecil di sela-sela lebatnya hujan yang menerjang sore itu. Suasana romantis semacam itu adalah suasana yang sangat didambakan oleh dua bocah remaja yang sedang termakan oleh iblis asmara, mereka berdua seakan tidak merelakan sang hujan untuk berhenti.
Di tengah kemesraan keduanya, ada satu hal yang membuat suasana kala itu menjadi suasana yang tidak akan terlupakan. Yaitu saat dia dan Teresa saling bertukar janji untuk bertemu kembali dikala mereka sudah menginjak usia dewasa dan meneruskan cintanya.
Kala itu mereka berdua sama-sama tahu bahwa asmara mereka sebentar lagi dipastikan akan berakhir. Bukan perselingkuhan, bukan kebosanan atau apapun itu. Sesuatu kejam yang memaksa mereka harus mengakhiri hubungan mereka adalah jarak. Untuk ukuran seorang bocah menengah pertama jarak adalah momok kejam yang sangat tidak mungkin untuk dilawan dan dilalui, mereka berdua sangat tahu akan hal itu. Mau bagaimana lagi, bila keadaan yang berkata demikian. Sehebat apapun perasaan dan cinta, apabila keadaan tidak merestui, maka berakhirlah sudah semuanya.
Setelah kenaikan kelas, Teresa akan ikut orang tuanya untuk pindah sekolah dan melanjutkan studinya di luar kota.
Sungguh pengalaman cinta yang sangat sulit dan menyiksa untuk ukuran mereka yang masih baru duduk di kelas 7 menengah pertama. Keadaan seakan membuat tingkat kedewasaan mereka dipaksa keluar dari singgasananya. Dan alhasil, kedewasaan itu berhasil keluar dan mampu untuk menahan kesakitan dan kepedihan. Mereka yang terpisahkan oleh jarak mulai mampu untuk merelakan hatinya terbuang. Seiring berjalannya waktu, mereka berusaha untuk mengganti hati yang terbuang itu dengan hati yang baru (itu sungguh sakit, percayalah).
---
Akhirnyaaa.. setelah melewati lorong-lorong seram seorang diri, sampailah dia di taman sebelah kampus dan disana sudah ada sosok wanita yang duduk menunggunya.
Wanita itu adalah Devi kekasihnya sekarang..
- bersambung...
Komentar
Posting Komentar