Tempat Asing
Langit Merah Gedung Tua
-- bagian 1 --
Matanya sedari tadi tak berkedip, sesekali melihat kearah luar dan sesekali melihat ke arah langit dibalik kaca. Nampak terik matahari sudah mulai bergeser ke arah yang semestinya. "Selamat datang soreku ditempat terasing" gumam Arya dalam sebuah mikrolet tua yang membawa raganya menuju tujuan baru.
Selang 30 menit perjalan ditambah macet dan lain hal, sampailah di tempat tujuan. Kedua matanya melirik ke arah jam tangan Seiko yang dipakainya. Jam yang memang selalu dipakai di lengan kirinya semenjak dia mulai menggunakan jam tangan pada pertengahan bulan lalu. Terlihat waktu menunjukkan pukul 15.05 WIB. Dengan setelan seragam putih biru berdasi dan ransel hitam yang menempel dipunggung, bocah itu seperti mengisyaratkan dan menunjukkan bahwa dia adalah salah satu siswa menengah pertama yang baru pulang dari tempatnya bersekolah.
"Keluar juga dari neraka sempit" gumam Arya saat mendaratkan kaki di depan sebuah bangunan tua. Bangunan yang terbilang cukup besar dengan domain warna biru sebagai warna utama dan putih sebagai warna pelengkapnya. Memang seperti sebuah simbol pembeda dari bangunan-bangunan yang ada di sebelahnya. Dengan raut muka layu setelah keluar dari mikrolet yang membawanya cukup lama, dan dengan rambut ikal yang acak-acakan, cukup menandakan bahwa bocah itu bukan bocah yang terlihat sangat mempedulikan penampilan. Terlepas dari itu, sebenarnya Arya memiliki paras yang cukup menarik di kalangan sebayanya. Kulitnya sawo matang, hidungnya mancung dibanding beberapa temannya, dan tingginya juga terbilang cukup untuk anak usia remaja awal, sekitar 157 cm. Hanya saja dia tidak terlalu mempedulikan penampilan, hal itu yang kemudian membuatnya menjadi kurang populer dikalangan wanita sebayanya.
"Oh jadi ini?" Gumamnya sambil melihat bangunan biru didepannya. Tampak dengan sangat-sangat jelas didepan matanya, bahkan meskipun dari jarak yang amat jauh sekalipun. Sebuah banner yang amat besar bertuliskan "siswa-siswi berprestasi" menutupi hampir separuh dari keseluruhan bangunan itu. Melihat banner besar yang mengganggu pemandangannya (menurutnya) tiba-tiba Arya mengkerutkan kening sambil berbicara entah dengan siapa "Gak tanggung-tanggung ya kalian kalau buat promo". Entah itu banner memang dibuat sebegitu besar untuk promosi atau memang dibuat untuk menutupi bangunan, entah mana yang benar.
Ada satu tulisan yang cukup besar, di bagian pojok kanan atas yang menunjukkan identitas dari bangunan itu berdiri. Tulisan yang berwarna terang dan berbeda dari tulisan besar dibawahnya. Yang jelas, siapapun yang melihat banner itu, pasti akan melihat tulisan di pojok kanan atas. Yah tulisan itu adalah BIMBEL.
Sebuah tempat yang paling membosankan dan memuakkan bagi siswa-siswi pemalas yang ingin menikmati masa remajanya dengan bermain Play Station dan Sosmed. Arya Bramanti adalah salah satu orang yang paling menyetujui opini tersebut. Sebenarnya Arya bukanlah siswa yang bodoh sekali, namanya selalu muncul diperingkat antara 12 atau 13 dari 30 siswa keseluruhan. Arya hanyalah kurang motivasi dalam hal akademis dan terkesan pemalas. Hal itulah yang membuat orang tua nya mendaftarkan dia di salah satu bimbel untuk menaikkan peringkatnya.
Kembali lagi. Setelah terkesima dengan penampakan luarnya yang cukup mengejutkan (banner yang terlalu berlebihan). Arya kemudian berjalan mendekati bangunan itu. Dengan wajah yang tidak menunjukkan ketertarikan sama sekali, dia akhirnya masuk kedalam gedung itu dan melihat sosok perempuan dibalik meja informasi. Terlihat dari balik meja seorang wanita cantik yang sudah berumur (mungkin sudah menikah) mempersilahkan Arya untuk masuk dan duduk.
"Arya Bramanti, siswa kelas VIII dari SMP xxx ya?" Tegur kakak cantik berkaca mata itu. "Iya kak" jawab Arya sedikit gugup. "Oh iya, berhubung kamu baru pertama disini kita kenalan dulu ya, namaku Rika panggil aja kak Caca. Mulai hari ini, Arya masuk kelas A yah. Kelasnya di atas, yang paling ujung deket tangga. Kalau mau tanya2 nanti setelah kelas selesai kesini lagi ya" kata perempuan cantik itu dengan singkat. "Lah?? Masuknya beneran sekarang kak?" Jawab Arya bingung, lantaran langsung memulai kelas di hari pertamanya datang ke tempat asing dengan banner besar itu. "Iya Arya (sambil senyum)" jawab perempuan cantik itu.
Masih dengan kebingungan dan keanehan yang tidak biasa, lantaran harus belajar ditempat asing dan bertemu dengan orang2 asing pula. Arya merasa bahwa sore nya di hari itu terbuang sia-sia. Singkat cerita, akhirnya dia berada di depan pintu kelas A setelah berjuang menaiki beberapa anak tangga. Dengan penuh kegugupan, Arya memberanikan diri untuk mengetuk pintu kelas yang memang tertutup rapat dari luar. Kedua tangannya sedikit berkeringat karena gugup dan suasananya menjadi aneh (menurutnya).
"Tok tok tok"
Setelah mengetuk tiga kali, tak selang waktu lama akhirnya pintu di depannya tiba-tiba terbuka dengan cepat dan sontak membuat ekspresi diwajahnya mirip seperti orang terkejut. Dan yang paling mengejutkan jiwanya adalah ternyata yang membukakan pintu adalah seorang wanita sebayanya yang memiliki paras yang sangat cantik, sangat menawan, dan sangat tidak mungkin untuk tidak dicintai oleh seorang Arya Bramanti.
-- bersambung --
-- bagian 1 --
Matanya sedari tadi tak berkedip, sesekali melihat kearah luar dan sesekali melihat ke arah langit dibalik kaca. Nampak terik matahari sudah mulai bergeser ke arah yang semestinya. "Selamat datang soreku ditempat terasing" gumam Arya dalam sebuah mikrolet tua yang membawa raganya menuju tujuan baru.
Selang 30 menit perjalan ditambah macet dan lain hal, sampailah di tempat tujuan. Kedua matanya melirik ke arah jam tangan Seiko yang dipakainya. Jam yang memang selalu dipakai di lengan kirinya semenjak dia mulai menggunakan jam tangan pada pertengahan bulan lalu. Terlihat waktu menunjukkan pukul 15.05 WIB. Dengan setelan seragam putih biru berdasi dan ransel hitam yang menempel dipunggung, bocah itu seperti mengisyaratkan dan menunjukkan bahwa dia adalah salah satu siswa menengah pertama yang baru pulang dari tempatnya bersekolah.
"Keluar juga dari neraka sempit" gumam Arya saat mendaratkan kaki di depan sebuah bangunan tua. Bangunan yang terbilang cukup besar dengan domain warna biru sebagai warna utama dan putih sebagai warna pelengkapnya. Memang seperti sebuah simbol pembeda dari bangunan-bangunan yang ada di sebelahnya. Dengan raut muka layu setelah keluar dari mikrolet yang membawanya cukup lama, dan dengan rambut ikal yang acak-acakan, cukup menandakan bahwa bocah itu bukan bocah yang terlihat sangat mempedulikan penampilan. Terlepas dari itu, sebenarnya Arya memiliki paras yang cukup menarik di kalangan sebayanya. Kulitnya sawo matang, hidungnya mancung dibanding beberapa temannya, dan tingginya juga terbilang cukup untuk anak usia remaja awal, sekitar 157 cm. Hanya saja dia tidak terlalu mempedulikan penampilan, hal itu yang kemudian membuatnya menjadi kurang populer dikalangan wanita sebayanya.
"Oh jadi ini?" Gumamnya sambil melihat bangunan biru didepannya. Tampak dengan sangat-sangat jelas didepan matanya, bahkan meskipun dari jarak yang amat jauh sekalipun. Sebuah banner yang amat besar bertuliskan "siswa-siswi berprestasi" menutupi hampir separuh dari keseluruhan bangunan itu. Melihat banner besar yang mengganggu pemandangannya (menurutnya) tiba-tiba Arya mengkerutkan kening sambil berbicara entah dengan siapa "Gak tanggung-tanggung ya kalian kalau buat promo". Entah itu banner memang dibuat sebegitu besar untuk promosi atau memang dibuat untuk menutupi bangunan, entah mana yang benar.
Ada satu tulisan yang cukup besar, di bagian pojok kanan atas yang menunjukkan identitas dari bangunan itu berdiri. Tulisan yang berwarna terang dan berbeda dari tulisan besar dibawahnya. Yang jelas, siapapun yang melihat banner itu, pasti akan melihat tulisan di pojok kanan atas. Yah tulisan itu adalah BIMBEL.
Sebuah tempat yang paling membosankan dan memuakkan bagi siswa-siswi pemalas yang ingin menikmati masa remajanya dengan bermain Play Station dan Sosmed. Arya Bramanti adalah salah satu orang yang paling menyetujui opini tersebut. Sebenarnya Arya bukanlah siswa yang bodoh sekali, namanya selalu muncul diperingkat antara 12 atau 13 dari 30 siswa keseluruhan. Arya hanyalah kurang motivasi dalam hal akademis dan terkesan pemalas. Hal itulah yang membuat orang tua nya mendaftarkan dia di salah satu bimbel untuk menaikkan peringkatnya.
Kembali lagi. Setelah terkesima dengan penampakan luarnya yang cukup mengejutkan (banner yang terlalu berlebihan). Arya kemudian berjalan mendekati bangunan itu. Dengan wajah yang tidak menunjukkan ketertarikan sama sekali, dia akhirnya masuk kedalam gedung itu dan melihat sosok perempuan dibalik meja informasi. Terlihat dari balik meja seorang wanita cantik yang sudah berumur (mungkin sudah menikah) mempersilahkan Arya untuk masuk dan duduk.
"Arya Bramanti, siswa kelas VIII dari SMP xxx ya?" Tegur kakak cantik berkaca mata itu. "Iya kak" jawab Arya sedikit gugup. "Oh iya, berhubung kamu baru pertama disini kita kenalan dulu ya, namaku Rika panggil aja kak Caca. Mulai hari ini, Arya masuk kelas A yah. Kelasnya di atas, yang paling ujung deket tangga. Kalau mau tanya2 nanti setelah kelas selesai kesini lagi ya" kata perempuan cantik itu dengan singkat. "Lah?? Masuknya beneran sekarang kak?" Jawab Arya bingung, lantaran langsung memulai kelas di hari pertamanya datang ke tempat asing dengan banner besar itu. "Iya Arya (sambil senyum)" jawab perempuan cantik itu.
Masih dengan kebingungan dan keanehan yang tidak biasa, lantaran harus belajar ditempat asing dan bertemu dengan orang2 asing pula. Arya merasa bahwa sore nya di hari itu terbuang sia-sia. Singkat cerita, akhirnya dia berada di depan pintu kelas A setelah berjuang menaiki beberapa anak tangga. Dengan penuh kegugupan, Arya memberanikan diri untuk mengetuk pintu kelas yang memang tertutup rapat dari luar. Kedua tangannya sedikit berkeringat karena gugup dan suasananya menjadi aneh (menurutnya).
"Tok tok tok"
Setelah mengetuk tiga kali, tak selang waktu lama akhirnya pintu di depannya tiba-tiba terbuka dengan cepat dan sontak membuat ekspresi diwajahnya mirip seperti orang terkejut. Dan yang paling mengejutkan jiwanya adalah ternyata yang membukakan pintu adalah seorang wanita sebayanya yang memiliki paras yang sangat cantik, sangat menawan, dan sangat tidak mungkin untuk tidak dicintai oleh seorang Arya Bramanti.
-- bersambung --

Komentar
Posting Komentar