Rindu
Kau itu sungguh candu, yang tak pernah absen di ingatan. Kenangan kita bersama mungkin sebentar, tapi sampai kini rasa itu tak sedikitpun pudar.
Maaf, jika kala itu aku tak bisa membawamu ke titik paling sempurna dalam rasa.
Sesal yang tak pasti sedang berteman baik denganku, dia enggan pergi meski ratusan kali mulut ini maki-maki.
Kadang juga dia datang saat aku sedang di puncak bahagia. Bangsat ya.
Kini dalam jarak yang kita derita, mampuku hanya membuat harapan-harapan semu, yang bahkan aku tak tahu arti semua itu. Kadang kala itu terasa hambar tanpa aksi yang pasti. Tuhan memang sangat tahu sesuatu yang melemahkan hambanya.
Yah, jika aku boleh berkata sangat jujur. Aku sangat merindumu. Entah parasmu, lengkung bibirmu, saat kau menangis, saat ku usap kepalamu, saat ku kecup manja bibir merahmu, yah meski yang kurasa kebanyakan rasa lipstik sih. Tapi kini kenangan sederhana itu hanya berlari-lari di ingatan, yang mungkin akan sulit untuk ku nyatakan lagi lewat aksi.
Aku yang sekarang hanya mampu tahu kabarmu lewat wassap, twitter kadang juga instagram. Ku berharap sejenak saja bisa berdamai dengan ingatan dan rasa sesal.
Maaf aku tak bisa jadi pembohong yang profesional,
saat aku merindumu!
Komentar
Posting Komentar