Wanita itu

Dia yang tanpa nama eps 2

Di kantin sekolah
---

Mata mereka bertemu..
Dia terdiam di atas tempat duduk yang terbuat dari besi itu. Seiring dengan waktu yang menolak untuk melanjutkan jelajahnya.

Dia memerhatikan wanita remaja menengah pertama itu dengan sangat detail dan teliti. Kecantikan paras kaum hawa itu seakan membius retina matanya yang sedari tadi hampir tak berkedip. Sampai akhirnya dia tak kuasa menahan tatapan itu, dan dia memilih untuk memalingkan tatapannya tepat pada lengan wanita cantik dengan setelan putih biru, layaknya remaja remaja menengah pertama lainnya. Terlihat bet kuning yang terpasang di lengan baju putihnya, menandakan bahwa wanita cantik itu memiliki tingkatan kelas yang sama dengan dirinya, murid baru dan masuk diwaktu yang sama. Memang warna dari setiap bet menunjukkan tingkatan kelas yang ada di sekolah itu. Kuning berarti tingkat pertama, merah tingkatan kedua, dan hijau sebagai tingkatan paling akhir atau ketiga.

Wanita itu masih tanpa suara dan tetap dengan tatapan sinisnya, seakan menghiraukan permintaan maaf yang terbesit ditelinga indahnya beberapa detik yang lalu. Suasana masih tegang, mungkin lebih tegang dari ujian matematika susulan yang pernah dia lalui sewaktu di sekolah dasar. Debi teman barunya pun seakan tak bisa berbuat apa apa, hanya memerhatikan kedua anak remaja menengah pertama itu saling bertatapan mata tanpa berkomunikasi. Tak lama setelah itu bel sekolah berbunyi, pertanda masuk jam pelajaran selanjutnya akan dimulai. Bel itu seraya memecah ketegangan suasana yang menyelimuti salah satu tempat duduk kantin itu bersama dengan ketegangan yang terjadi antara mereka berdua. Tanpa sepatah kata yang terucap dari bibir tipisnya, wanita cantik itu bangkit dari tempat duduk bersama satu temannya dan bergegas kembali ke kelas.

Dia masih duduk terdiam, sembari memandangi dan memerhatikan wanita cantik namun sinis yang mulai berjalan menjauhinya. Nampak jelas dari belakang bentuk dan lekuk tubuh indah wanita yang membuatnya terdiam itu. Untuk ukuran bocah menengah pertama, wanita cantik itu cukup tinggi dibandingkan dengan wanita kebanyakan. Tubuhnya ramping serta rambutnya yang bergerak kenanan dan kekiri sewaktu berjalan, membuatnya semakin nampak terlihat mempesona di mata setiap insan yang memandang. Dalam diamnya dia bergumam dalam hati, memuji Tuhan atas kebaikanNya yang telah memperlihatkan salah satu ciptaanNya yang paling indah di muka bumi, tepat di depan kedua mata telanjangnya.

Tanpa sadar Debi teman barunya sudah berdiri dari tempat duduknya dan mengisyartkan untuk bergegas kembali ke kelas. Dengan cekatan dia berdiri dan pergi dari tempat kejadian itu untuk kembali ke kelasnya.

---

Singkat cerita sampailah dia dan Debi didepan kelas yang terkesan tidak enak dipandang. Hampir semua murid di sekolah sepakat menyebutkan bahwa kelas itu adalah kelas paling suram dan tidak layak huni dari semua kelas yang ada. Kelas itu tidak memiliki celah untuk keluar masuk cahaya matahari. Jendelanya tertutup cat coklat yang membuat kelas itu terkesan suram. Hanya cahaya lampu samar yang menerangi proses belajar mengajar di tempat itu. Coretan coretan dinding hampir diseluruh bagian belakang tembok kelas, entah itu coretan spidol atau tipe x, sangat beragam untuk disebutkan satu persatu. Banyak benda benda lama yang sebetulnya tidak layak untuk berada di dalam kelas seperti kayu bekas, kursi lapuk, dan meja rusak ada tepat di bagian belakang bangku terakhir. Mungkin dulunya difungsikan sebagai gudang atau apa kurang tahu, tapi memang lebih mirip seperti itu. Adalah kelas 7A dimana dia dan teman teman barunya dipertemukan.

Tanpa basa basi Debi teman barunya langsung masuk ke dalam kelas suram itu tanpa menghiraukan apapun, debi anggap kelas itu biasa saja (karena memang sudah biasa). Sebelum masuk ke dalam kelas yang terkesan suram itu, dia memerhatikan kelas sebelah yang memang bersebalahan dengan kelasnya, tepatnya adalah kelas 7B. Terlihat jelas sekali perbedaan pada keduanya baik suasana maupun kondisi. Tidak ada yang menghalangi jendela, membuat cahaya matahari dapat leluasa keluar masuk dan seakan membuat suasana kelas menjadi hidup. Tidak ada coretan coretan dinding atau bekas kursi dan meja rusak di dalam kelas. Hal itu membuat kesan yang sangat jauh berbeda dengan kelas suram yang ditempatinya (pikirnya). Setalah mengamati kodisi yang dianggapnya tidak adil itu, tanpa sengaja dia melihat wanita yang tidak asing dalam penglihatannya. Yah dia adalah wanita cantik dengan tatapan sinis yang ditemuinya dikantin beberapa menit yang lalu, wanita itu tampak berada di depan pintu ruang kelas sedang memegang sapu dan membersihkan sampah (entah mungkin dia sedang piket mendadak).

Seketika itu setan asmara datang meracuni akal sehatnya, tanpa pikir panjang disertai dengan rasa takut dan gugup, dia memutuskan berjalan mendekati wanita cantik yang sedang memegang sapu itu. Mungkin sekitar tujuh langkah dari tempat dia berdiri. Dia mulai melangkahkan kakinya dengan cukup meyakinkan. Akan tetapi ada yang aneh dengan perasaannya, seakan perasaan itu tidak pernah ada sebelumnya. Langkahnya mulai bergetar saat hampir mendekati wanita cantik itu. Detak jantung yang semula normal, kini kembali berdenyut keras seakan meronta ronta.

Dan akhirnya, dia berada tepat didepan wanita yang ditemuinya beberapa menit lalu di kantin sekolah. Wajah yang cantik anggun tapi tetap dengan tatapan sinis sangat terlihat jelas didepannya. Kali ini setan asmara mulai menguasai dirinya. Tanpa pikir panjang dia langsung mengulurkan tangan untuk mengajaknya berkenalan. Bersamaan dengan itu, dia mulai berfikir bahwa yang akan dia dapatkan adalah sebuah penolakan yang amat pedas dan mungkin akan sangat malu didepan teman temannya (yang memang posisi teman temannya tidak jauh dari dua anak remaja ini). Dia mulai berfikir tidak waras dan dia merasa bahwa apa yang dilakukannya ini akan berdampak kepada tiga tahun kedepan karir sekolahnya, entah menanggung malu atau sebaliknya, dia sudah siap dengan segala konsekuensi yang akan terjadi pada dirinya. Dan tanpa sadar tangan yang dia ulurkan untuk berkenalan mulai bergetar dengan cukup hebat. Seakan tangan itu menolak untuk bertemu dengan tangan wanita remaja cantik itu.

Seketika, disambar uluran tangan yang bergetar itu dengan gestur lembut telapak tangan yang memang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Wanita cantik itu menggenggam telapak tangannya dengan lembut dan memperkenalkan dirinya. Sesuatu yang tak terduga terjadi, kali ini tatapan sinis yang menjadi cirikhas wanita remaja cantik itu hilang dan seakan lenyap dari wajahnya. Seketika berubah menjadi senyuman manis yang berseri seri. Gigi putihnya yang tidak rata seakan menghiasi bibirnya yang tipis dan sedikit basah, hal itu membuat setiap mata yang melihat merasa takjub dan bersyukur, bahwa Tuhan telah memperlihatkan salah satu ciptaanNya yang terindah dalam wujud senyuman wanita remaja menengah pertama itu.
---
Namanya adalah Teresa

---

- Bersambung...

Komentar

  1. Ku berharap tau nama laki2 culun tapi ada bibit2 pemberani di eps 2. Ternyata nama si cewek yg ada. Wkwk gpp lumayan a
    bikin kepo untuk eps selanjutnya. 👍

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remang

Tips dan Trik Google Slide

Agribisnis