Kala itu hari pertama
Sebuah tulisan dari salah seorang remaja yang beranjak dewasa
- Dia yang tanpa nama, eps 1 -
Kala itu..
Sekitar 9 tahun yang lalu dari sekarang, seorang anak pendek dari desa seberang yang baru menginjakkan kaki di bangku sekolah menengah pertama dengan setelan culun dan cupu yang menjadi cirikhasnya.
Dia bukan anak yang pintar, dia hanya suka memerhatikan orang yang ada disekitarnya, entah hobi atau memang tidak ada kerjaan, hal itu seakan menjadi rutinitas di hidupnya.
---
Pagi, pukul 6.30
Bel masuk sekolah berbunyi..
---
Untuk pertama kalinya dia datang ke sekolah yang mungkin tidak jauh dari tempat nyaman dia dibesarkan, sekitar 6km dari tempat nyaman itu. Bernama SMPN 1 XXX yang bertempat di kota Malang.
Hari pertama sekolah adalah hari dimana kau akan menentukan siapa teman yang kau pilih dan kau ajak berbicara. Di tengah kesendiriannya dia memutuskan untuk memilih satu dari 30 anak yang baru menginjak usia remaja di ruangan itu. Dia memutuskan untuk memulai pembicaraan dengan orang baru dalam hidupnya. Namanya Debi (teman pertamanya), dia anak laki laki yang terbilang cukup pendiam. Dia cukup tinggi dan kulitnya lumayan putih, dia memiliki rambut yang agak bergelombang dan ikal.
Dan akhirnya dia memulai percakapan singkatnya dengan perkenalan seperti biasa (dia telah menemukan orang pertama yang dijadikannya sebagai teman)
---
Jam istirahat tiba
---
Dia memutuskan untuk berkeliling sekolah dengan Debi teman barunya, dia berjalan melewati lorong demi lorong dimana banyak kakak kelas yang siap untuk mencibir dan mencacinya (senioritas mulai terlihat). Dia terus berjalan dan berjalan sembari menggerakkan mata sesekali untuk memerhatikan anak anak kelas lain dengan langkahnya yang tak terhenti.
Akhirnya, sampailah dia di depan gedung kecil yang dikerumuni oleh hampir seluruh murid yang bersekolah disana. Tempat yang paling didambakan oleh setiap anak remaja menengah pertama untuk mengisi kekosongan perutnya, yah dia sampai di gedung bernama kantin sekolah. Dia dan Debi memutuskan untuk membeli sebutir roti isi (yang kala itu harganya hanya Rp.500,-). Dalam proses pengambilan roti sampai bayar, mungkin memerlukan waktu sekitar 3 menit, karena antrian yang cukup ramai di tempat itu. Lalu ia memutuskan untuk mencari tempat duduk disana sembari menikamati roti isi yang telah dibelinya. Dia melihat lihat sekitar kantin yang sangat ramai itu dan akhirnya menemukan celah agak sempit di salah satu tempat duduk yang kebetulan kosong karena baru saja ditinggal oleh dua anak yang duduk sebelumnya. Sebuah anugrah Tuhan yang sangat jarang ditemui. ~Just info: Tempat duduk kantin adalah tempat duduk paling sakral dari semua tempat duduk yang ada di sekolah itu, karena tempat duduk kantin sangat jarang sekali ditemui dalam keadaan kosong, kecuali pada waktu jam masuk pelajaran dan hari libur. Tempat duduk kantin terbuat dari besi yang panjangnya kira kira 1,5 meter, dan bisa menampung sekitar 5 pantat anak smp).
Tanpa pikir panjang dia memutuskan untuk menunjuk celah kosong itu dimana sudah ada dua wanita yang telah duduk disana sebelum dia dan Debi datang. Tanpa menghiraukan dua wanita itu dia memutuskan untuk langsung duduk disebelah dua wanita itu, tepatnya disebelah kiri dua wanita itu yang mana posisinya hampir berdempetan dengan salah satu wanita remaja itu (dalam satu tempat duduk yang memang agak panjang).
Asik bercerita tentang pengalaman waktu di Sekolah Dasar dengan Debi teman barunya, tanpa sadar dia menggerakkan tangan kanannya dan menyentuh pundak salah satu wanita yang duduk di sebelahnya. Dengan reflek yang cukup cekatan wanita itu menoleh seakan menunjukkan tatapan sinis tapi manis kepadanya. Sontak dia langsung meminta maaf kepada wanita itu dengan tergesa, sembari meminta maaf dia melihat wajah wanita sinis yang duduk disebelahnya itu dengan sangat jelas. Mata mereka bertemu seketika dan membuat keduanya terdiam sejenak.
Wnita itu sangat cantik dan anggun (pikirnya). Rambutnya hitam panjang terurai rapi sampai bahu, bando biru muda yang dikenakan seakan menambah keanggunan wanita yang baru duduk di bangku menengah pertama itu. Alisnya yang agak tipis membuat bentuk bundar matanya terlihat sinis dan cantik, hidungnya terbilang cukup mancung untuk ukuran hidung orang pribumi. Giginya yang kurang rata seakan sangat cocok dengan bibirnya yang tipis dan sedikit basah, mungkin karena make up.. entah kurang tahu.
Dia menemukan sesuatu yang tidak biasa terjadi dengan tubuhnya. Jantungnya berdetak kencang seakan meraung raung di dadanya, keringat sebiji jagung mulai terasa di sekujur tubuhnya, panas tubuh yang semula normal kini mulai menunjukkan eksistensinya.
.... yah dia sedang jatuh cinta pada pandangan pertama.
- bersambung...
- Dia yang tanpa nama, eps 1 -
Kala itu..
Sekitar 9 tahun yang lalu dari sekarang, seorang anak pendek dari desa seberang yang baru menginjakkan kaki di bangku sekolah menengah pertama dengan setelan culun dan cupu yang menjadi cirikhasnya.
Dia bukan anak yang pintar, dia hanya suka memerhatikan orang yang ada disekitarnya, entah hobi atau memang tidak ada kerjaan, hal itu seakan menjadi rutinitas di hidupnya.
---
Pagi, pukul 6.30
Bel masuk sekolah berbunyi..
---
Untuk pertama kalinya dia datang ke sekolah yang mungkin tidak jauh dari tempat nyaman dia dibesarkan, sekitar 6km dari tempat nyaman itu. Bernama SMPN 1 XXX yang bertempat di kota Malang.
Hari pertama sekolah adalah hari dimana kau akan menentukan siapa teman yang kau pilih dan kau ajak berbicara. Di tengah kesendiriannya dia memutuskan untuk memilih satu dari 30 anak yang baru menginjak usia remaja di ruangan itu. Dia memutuskan untuk memulai pembicaraan dengan orang baru dalam hidupnya. Namanya Debi (teman pertamanya), dia anak laki laki yang terbilang cukup pendiam. Dia cukup tinggi dan kulitnya lumayan putih, dia memiliki rambut yang agak bergelombang dan ikal.
Dan akhirnya dia memulai percakapan singkatnya dengan perkenalan seperti biasa (dia telah menemukan orang pertama yang dijadikannya sebagai teman)
---
Jam istirahat tiba
---
Dia memutuskan untuk berkeliling sekolah dengan Debi teman barunya, dia berjalan melewati lorong demi lorong dimana banyak kakak kelas yang siap untuk mencibir dan mencacinya (senioritas mulai terlihat). Dia terus berjalan dan berjalan sembari menggerakkan mata sesekali untuk memerhatikan anak anak kelas lain dengan langkahnya yang tak terhenti.
Akhirnya, sampailah dia di depan gedung kecil yang dikerumuni oleh hampir seluruh murid yang bersekolah disana. Tempat yang paling didambakan oleh setiap anak remaja menengah pertama untuk mengisi kekosongan perutnya, yah dia sampai di gedung bernama kantin sekolah. Dia dan Debi memutuskan untuk membeli sebutir roti isi (yang kala itu harganya hanya Rp.500,-). Dalam proses pengambilan roti sampai bayar, mungkin memerlukan waktu sekitar 3 menit, karena antrian yang cukup ramai di tempat itu. Lalu ia memutuskan untuk mencari tempat duduk disana sembari menikamati roti isi yang telah dibelinya. Dia melihat lihat sekitar kantin yang sangat ramai itu dan akhirnya menemukan celah agak sempit di salah satu tempat duduk yang kebetulan kosong karena baru saja ditinggal oleh dua anak yang duduk sebelumnya. Sebuah anugrah Tuhan yang sangat jarang ditemui. ~Just info: Tempat duduk kantin adalah tempat duduk paling sakral dari semua tempat duduk yang ada di sekolah itu, karena tempat duduk kantin sangat jarang sekali ditemui dalam keadaan kosong, kecuali pada waktu jam masuk pelajaran dan hari libur. Tempat duduk kantin terbuat dari besi yang panjangnya kira kira 1,5 meter, dan bisa menampung sekitar 5 pantat anak smp).
Tanpa pikir panjang dia memutuskan untuk menunjuk celah kosong itu dimana sudah ada dua wanita yang telah duduk disana sebelum dia dan Debi datang. Tanpa menghiraukan dua wanita itu dia memutuskan untuk langsung duduk disebelah dua wanita itu, tepatnya disebelah kiri dua wanita itu yang mana posisinya hampir berdempetan dengan salah satu wanita remaja itu (dalam satu tempat duduk yang memang agak panjang).
Asik bercerita tentang pengalaman waktu di Sekolah Dasar dengan Debi teman barunya, tanpa sadar dia menggerakkan tangan kanannya dan menyentuh pundak salah satu wanita yang duduk di sebelahnya. Dengan reflek yang cukup cekatan wanita itu menoleh seakan menunjukkan tatapan sinis tapi manis kepadanya. Sontak dia langsung meminta maaf kepada wanita itu dengan tergesa, sembari meminta maaf dia melihat wajah wanita sinis yang duduk disebelahnya itu dengan sangat jelas. Mata mereka bertemu seketika dan membuat keduanya terdiam sejenak.
Wnita itu sangat cantik dan anggun (pikirnya). Rambutnya hitam panjang terurai rapi sampai bahu, bando biru muda yang dikenakan seakan menambah keanggunan wanita yang baru duduk di bangku menengah pertama itu. Alisnya yang agak tipis membuat bentuk bundar matanya terlihat sinis dan cantik, hidungnya terbilang cukup mancung untuk ukuran hidung orang pribumi. Giginya yang kurang rata seakan sangat cocok dengan bibirnya yang tipis dan sedikit basah, mungkin karena make up.. entah kurang tahu.
Dia menemukan sesuatu yang tidak biasa terjadi dengan tubuhnya. Jantungnya berdetak kencang seakan meraung raung di dadanya, keringat sebiji jagung mulai terasa di sekujur tubuhnya, panas tubuh yang semula normal kini mulai menunjukkan eksistensinya.
.... yah dia sedang jatuh cinta pada pandangan pertama.
- bersambung...
Keren nih eps 1. Jalan lah imanjinasi we buat tokoh2 di dlm.a .. Gak ada sesi percakapan ala ala anak SMp gtu kah bpk outhor ? 👍
BalasHapusHehe gada soalny make sudut pandang orang ke 3 , makasih banget kak udah ngikutinn kelanjutan eps nya 🙏🙏
Hapus