Sesuatu yang mengejutkan
- Dia yang tanpa nama eps 4 -
Di suatu sore..
---
Dia keluar dari sebuah kost-an kecil yang bertempat di seberang sungai tidak jauh dari lokasi kampusnya. Sebuah kost sederhana dengan fasilitas yang cukup memadai untuk ukuran mahasiswa. Dia memang sengaja memilih kost dengan harga yang cukup murah, asalkan memenuhi standar yang dia tetapkan sendiri seperti: air bersih, kamar mandi, kasur, lemari, dan tempat jemuran, adalah hal terpenting yang harus ada (menurutnya), jika ada tambahan fasilitas yang lain, dia anggap sebagai bonus. Tidak harus mewah, asalkan memiliki suasana yang tenang, nyaman untuk proses belajar dan berimajinasi (pikirnya).
Dengan setelan kaos polos berjaket casual dan celana hitam bersepatu, dia menaiki motor matic yang biasa membawanya berkeliling kemanapun dia mau. Kali ini, Dia berencana untuk pergi ke suatu tempat dengan seorang wanita di kampusnya. Memang beberapa hari yang lalu dia sempat membuat janji dengan salah seorang wanita cantik dikampusnya. Wanita cantik yang membuat dia betah untuk berlama-lama singgah. Dan Dia akrab menyebutnya dengan sebutan kekasih.
Dengan harapan besar di dadanya, dia ingin segera bertemu dengan sosok wanita cantik yang telah membuatnya takluk seakan tak berdaya. Sudah sangat lama dia tidak merasakan gejolak iblis asmara di dalam dirinya. Setelah yang terakhir bersama Teresa (cinta pertamanya) ketika masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kisah-kisah tentang percintaannya dulu sewaktu masih di sekolah menengah atas tidak begitu menarik, dia memang sering menandai beberapa wanita yang menurutnya cantik dan menarik, tapi wanita-wanita itu masih belum mampu untuk membuat iblis asmara terpancing keluar dari dalam dirinya. Kehadiran sosok wanita bernama Devi inilah yang seolah membuat Dia menemukan kembali gejolak asmara yang telah lama terdidur dalam benaknya. Dia merasa bahwa hasratnya untuk merasakan sensasi cinta mulai terbangun dari tidur yang amat panjang, dan seolah mampu menunjukkan eksistensinya kembali.
Singkat cerita..
Sampailah dia bersama dengan motor maticnya di depan bangunan kost putri yang terbilang cukup besar dan mewah. Gerbang coklat berukir dan taman bunga di depan teras seolah membuat kost ini terkesan cantik dan mewah. Yang membuat kost-an ini terlihat sempurna adalah keberadaan sosok wanita yang duduk di kursi depan teras dengan setelan gamis coklat muda, dihiasi dengan kerudung coklat yang terpasang anggun di kepalanya. Sambil tersenyum menawan, nampak jelas bahwa wanita itu sedang menunggu kekasihnya. Terbangun dari tempat duduknya, wanita itu langsung berjalan ke arah Dia yang ada di balik pintu gerbang, bersamaan dengan senyum menawan yang sempat dia tunjukkan beberapa detik lalu.
Dengan cepat wanita cantik itu membuka gerbang kost yang memang selalu tertutup rapat, dan langsung menaiki motor matic yang ada didepannya. Dia yang sedang terpaku akan kecantikan dan keanggunan wanita itu, seakan tak bisa berbuat banyak dan merelakan begitu saja tempat duduk bagian belakang motornya kepada si wanita yang berada persis didepan kedua matanya. Tetap dengan senyum menawan yang menjadi senjata ampuhnya, wanita itu seraya membuat Dia yang ada didepannya tak bisa berkata-kata dan tak bisa berbuat apa-apa. Hanya pujian-pujian indah yang tertuju kepada sosok wanita cantik yang sedang tersenyum itu. Yahh... Wanita cantik itu adalah Devi, orang beruntung yang dipilihnya menjadi kekasih.
Selang waktu sekitar 20 menit dari kost-an mewah tempat Devi kekasihnya tinggal, sampailah dia dan Devi di tempat yang dituju. Sejauh mata memandang, terlihat bunga-bunga cantik yang amat banyak hingga membuat mata mereka termanjakan oleh keindahan alam ciptaan Tuhan. Sebuah taman bunga yang sangat luas dan sangat indah, berjejer dengan kafe-kafe yang bernuansa romantis. Suasana yang tergambar disana sedikit mendung dan sejuk karena hembusan angin sore. Sungguh suasana yang sangat sempurna untuk sepasang kekasih yang sedang menjalin asmara.
Dia dan Devi menuju salah satu kafe yang berada di sebelah taman bunga, tepatnya adalah kafe di sebelah pojok kiri dari tempat mereka berhenti untuk memarkir motornya. Mereka berdua sepakat hanya memesan minuman dari pada makanan, karena memang suasana yang mendukung untuk kencan mereka adalah dengan menyeduh minuman, bukan sibuk makan (menurutnya). Dia menjatuhkan pilihan pada kopi hitam kintamani tubruk yang memang sedari tadi sangat menggoda aromanya. Berbeda dengan Devi yang lebih memilih greentea dari pada kopi. Memang pilihan menu keduanya berbeda, tapi keduanya memilih untuk melabuhkan hati pada pilihan yang sama.
Mereka saling bercengkerama, bercanda dan tidak jarang mereka saling usil untuk sekedar menghabiskan waktu bersama di tempat romantis itu. Dia yang memang memiliki hoby suka memerhatikan orang disekitarnya, dan Devi adalah sosok wanita cantik yang memiliki jiwa sosial tinggi, membuat keduanya sangat cocok untuk bersanding dan memainkan peran sebagai sepasang kekasih. Kisah mereka disaksikan oleh bunga-bunga yang sedari tadi menari diterpa angin sore, dan diabadikan oleh langit mendung yang sengaja menahan air hujannya untuk tidak jatuh membasahi mereka berdua.
Waktu yang seharusnya berjalan dengan normal, tak terasa sudah menunjukkan pukul 17.15 wib. Sore dan senja akan segera berganti dengan malam dan bulan juga sudah memberi aba-abanya kepada matahari untuk berganti posisi. Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk menyudahi hari bahagia mereka di magrib itu, dan bersiap untuk pulang ke tempat nyaman dimana mereka tinggal untuk sementara waktu. Akhirnya, mereka memutuskan untuk melanjutkan hari bahagia di lain waktu dan pulang dengan hati yang masih tetap terjaga satu sama lain.
Keesokan harinya...
Pagi sekitar pukul 08.00 wib, kebetulan dia tidak ada jam kuliah pagi pada hari itu. Tapi dia tetap berencana untuk pergi ke kampusnya, tempat dimana dia belajar mencari ilmu (katanya). Dia berencana untuk pergi ke salah satu tempat yang paling jarang dikunjungi oleh hampir seluruh mahasiswa yang ada di kampus itu. Hanya beberapa mahasiswa semester akhir khusunya, yang akrab dengan tempat sakral yang jarang dikunjungi itu. Yahh.. dia akan pergi ke perpustakaan kampus untuk mencari buku panduan dalam mengerjakan laporan yang sedang membelenggunya.
Setelah bersiap-siap selama kurang lebih 15 menit, dia dan motor maticnya siap untuk pergi berkelana ke tempat jarang pengunjung itu. Kali ini setelan yang dia pakai adalah setelan kesukaannya yaitu kemeja hitam, celana hitam, dan sepatu coklat. Entah kenapa dia sangat menyukai setelan semacam itu, mungkin untuk lebih terlihat menarik saja.
Setelah sampai di kampus sekitar pukul 08.40 wib, dia langsung menuju perpustakaan yang terletak di tengah-tengah gedung kampus. Memang letaknya agak jauh dari tempat parkir kendaraan, dan harus melewati lorong-lorong seram yang menjadi ciri khas kampus itu. Suasana perpustakaan di pagi hari adalah suasana perpustakaan dalam kondisi paling sunyi, sepi, dan paling seram (jika sendirian).
Suasana itu bertahan mulai dari pukul 08.00 - 10.00 wib. Disela-sela jam itu hampir tidak ada satupun mahasiswa yang datang keperpustakaan. Barulah jam-jam setelahnya mulai ada beberapa mahasiswa yang mau untuk datang ke gedung yang bernama perpustakaan itu.
Setelah masuk ke dalam ruangan perpustakaan, dia berjalan menuju rak satu ke rak lainnya untuk mencari keberadaan buku yang akan dimintai pertolongan dalam mengerjakan laporannya. Tak lama setelah dia berjalan, dia menemukan sebuah buku di salah satu rak atas yang dia percaya dapat membantu menyelesaikan urusan-urusan terkait laporannya. Setelah mendapatkan buku itu, dia memutuskan untuk duduk di salah satu tempat duduk yang memang agak luas disana, untuk dia dapat membacanya dan mencatat sesuatu yang dianggapnya penting.
Belum lama dia membaca buku, tiba-tiba dia merasakan ada sentuhan fisik di pundak belakang bagian kanannya. Sontak dengan cepat dia bereaksi terhadap sentuhan fisik itu dengan menoleh kebelakang, berharap mengetahui ada sesuatu apa dibelakang dirinya. Betapa terkejutnya dia ketika melihat ada seorang wanita yang sedang tersenyum di belakangnya. Seorang wanita yang sangat cantik dengan rambut hitam yang lurus sampai bahu sedang tersenyum manis kearahnya.
Sontak tiba-tiba Dia merasakan keanehan ada pada dirinya. Energi panas mulai menguap dari dalam dirinya. Detak jantung yang semula normal kini mulai tidak terarah dan semakin cepat. Sebuah reaksi ketidak normalan tubuh yang dia rasakan SAMA dengan waktu itu, ketika masih menjadi seorang bocah menengah pertama.
Yah tidak salah lagi, reaksi itu tetap tidak berubah ketika menghadapi orang yang sama.
Teresa..
- bersambung...
Devii
BalasHapusLanjut thor 👍
BalasHapus