Akhirnya
- Dia yang tanpa nama eps 5 -
Ada satu janji yang dibuat oleh dua bocah remaja menengah pertama, yang kala itu masih berstatus pacaran. Mereka berjanji akan bertemu kembali di suatu waktu untuk meneruskan kembali cintanya yang telah dan harus patah pada saat itu.
---
Setelah pertemuan singkatnya dengan Teresa, dia dipaksa untuk berfikir jernih dengan logika dan mempertimbangkan dengan hati. Satu keadaan yang membuatnya dilema antara harus memilih serpihan kenangan masa lalu atau kenyataan saat ini yang membuatnya merasakan dan menemukan kehidupan baru.
Setelah pertemuan singkat itu, dia kembali ke kost-nya dan mulai mencoba untuk befikir jernih dan mencari solusi terbaik. Alhasil, satu malam penuh dia tidak melakukan satu kegiatanpun yang menyibukkan dirinya. Hanya diam duduk termenung dikamar kost tanpa melakukan apa-apa kecuali bimbang dan dilema.
Sekitar pukul 00.30 WiB..
Hampir sepuluh kali dia menghitung telepon pintarnya berdering kencang di atas meja kecil tempat dia belajar. Dia hanya menatap dengan tatapan sayu tiap kali telepon pintar itu berdering. Nampak sebuah nama yang sama di layar tiap kali telepon pintar itu berdering. Nama dari orang yang saat ini sangat penting baginya, Devi.
Dia sengaja tidak mengangkat dan menanggapi panggilan itu, karena dia tidak tahu apa yang harus dia ucapkan kepada kekasihnya.
Sekitar sepuluh menit berselang, tidak terdengar lagi suara deringan telepon pintar yang sedari tadi tidak tersentuh oleh jari-jari pemiliknya. Kali ini dia mulai merasakan kejenuhan dan mulai terpuruk dengan keadaan yang membuatnya mendadak lemah. Sempat dia berfikir untuk lari, pergi, dan menghilang dari permukaan. Hanya karena kebimbangan yang tiba-tiba muncul di tengah kenormalan hidupnya selama ini.
Dia masih tetap dengan posisinya duduk termenung dan berbaring sesekali, untuk berfikir kembali apa yang harus dilakuakan dengan keadaan seperti ini. Dia mulai mempertimbangkan lagi dan lagi pilihan-pilihan yang telah dia buat sendiri, antara harus memilih bertahan atau melepaskan. Logika dan hatinya kini dia rasakan mulai tidak sepaham lagi. Hanya karena masa lalu yang datang bersama dengan janji yang sempat terucap.
Sampai akhirnya dia merasa sangat lelah membuang-buang waktu dan tetap tidak mampu untuk memilih antara keduanya. Sungguh dia merasa sangat terpuruk lemah dan tak berdaya di malam menjelang pagi itu.
Sekitar pukul 04.20 WIB pagi.. terdengar suara adzan subuh.
Bersama dengan kelelahannya, dia mulai berjalan keluar kamar untuk bersuci dan mulai melaksanakan ibadah yang dia yakini.
Setelah selesai beribadah, dia akhirnya berfikir bahwa dia memang harus tegas kepada logika dan hatinya sendiri yang saat ini sedang berselisih paham. Dia harus menentukan pilihan yang tepat untuk masalah ini. Masa lalu atau sekarang.
Keesokan harinya..
Sebelumnya dia sempat membuat janji dengan Teresa akan bertemu di sebuah cafe di tengah kota, ketika dia sudah punya jawaban atas apa yang Teresa minta.
Akhirnya bertemulah mereka berdua di sebuah cafe. Mereka memesan tempat duduk di lantai paling atas, dengan alasan agar mereka lebih bisa mengobrol santai ditemani suasana dingin dan indahnya kota yang nampak dari ketinggian. Tak selang waktu lama, seorang waiters tiba dan berjalan kearah mereka berdua dengan membawa nampan berisi satu gelas kopi hitam dan satu gelas milk shake coklat.
Suasana malam yang romantis di sebuah cafe bersama dengan lampu-lampu indah diatas mereka berdua, seakan mengerti dan mau menjadi saksi percakapan antara dua manusia yang sempat menjalin hubungan di masa lalu, dan bertemu kembali untuk menegaskan janji yang dulu pernah mereka buat.
Teresa mulai membuka pembicaraan dengan menanyakan tentang seorang wanita yang sedang Dia kencani. Dia tidak merasa kaget ketika Teresa menanyakan hal itu, dia merasa bahwa Teresa sudah tahu bahwa saat ini dia memang sedang berpacaran dengan seorang wanita bernama Devi. Dia menjawab dengan santai pertanyaan itu dan sesekali mereka berdua tertawa kecil.
Sampai akhirnya tiba saat keduanya mulai berbicara serius tentang sebuah "janji" di masa lalu. Satu-satunya alasan mengapa Teresa muncul di kota tempat dia berada adalah karena janji yang pernah terucap oleh keduanya di waktu itu. Teresa dengan serius dan penuh pengharapan mulai bercerita..
Teresa bercerita panjang lebar tentang kehidupannya setelah berpisah, tentang seseorang yang dulu selalu membuatnya bahagia, tentang seseorang yang selalu dia tunggu, dan tentang seseorang yang selalu dia harapkan untuk muncul di depannya lagi.. yah, Teresa sedang membicarakan tentang Dia. Kedua mata Teresa terlihat berkaca-kaca saat bercerita tentang kesakitannya ketika mengetahui bahwa "Dia" seorang pria yang ditunggunya selama ini telah menemukan sosok wanita lain.
Kilauan air mata mulai terlihat berjatuhan di pipi seorang wanita cantik yang ada tepat didepannya. Masih dengan penuh pengharapan dan air mata, ternyata selama ini Teresa masih menyimpan rapih kenangan dan perasaannya. Dalam hati kecilnya Teresa masih menginginkan sosok pria yang pernah dicintainya itu untuk sekali lagi jatuh kepelukannya. Sebuah ekspresi wajah yang sangat sulit untuk digambarkan, seorang wanita cantik dari masa lalu sedang menangis dan mengharapkan cinta dari seorang pria yang pernah dicintainya.
Mendengar cerita-cerita dari Wanita yang sempat singgah di hatinya, Dia mulai menangis di dalam hati kecilnya. Dia merasa bahwa dia telah menjadi laki-laki yang sangat kejam, telah menghianati kepercayaan seorang wanita. Tiba-tiba dia merasakan dilema sekali lagi. Pikirannya tiba-tiba kacau dan mulai merasa bersalah..
Dia sangat kacau dan mulai bergumam dalam hati. Dia berdoa dalam hati kepada Sang Penguasa Takdir untuk ditetapkan pilihannya. Dengan perasaan dan hati yang hacur, Dia akhirnya memberikan satu jawaban kepada wanita yang sedang menangis penuh pengharapan didepannya itu. Dia berusaha memberikan pilihan bijak tentang apa yang harus dia jalani untuk masa depannya.
Setelah mendengar jawaban itu, Teresa seraya berhenti menangis dan mulai merasa sedikit tenang. Wanita cantik itu tersenyum kecil dan bersyukur karena telah mendengar satu jawaban yang akan menentukan jalan mereka berdua untuk kedepan. Sebuah janji yang sempat terucap dari bibir mereka berdua dikala masih menjadi remaja menengah pertama akhirnya telah terpecahkan.
Lantai paling atas cafe yang mereka pilih akhirnya benar-benar menjadi saksi bisu dari percintaan antara dua manusia yang bertemu di masa lalu untuk menagih janji nya dan bertemu kembali di masa sekarang.
Kini mereka berdua telah memiliki jalan untuk bahagia.
---
Sebelum pergi meninggalkan cafe, Teresa membisikkan kata-kata lirih ditelinganya.
"Terimakasih kamu telah ada di hidupku, aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kamu dan Devi.. selamat tinggal masa indahku".
- Selesai -
Komentar
Posting Komentar